Label

Catatanku (4) Berbagi (2) Saya (1)

Rabu, 04 Juni 2014

Apa Sich Perlunya Skripsi?

Saya memiliki argumen kenapa skripsi sudah tidak relevan lagi untuk menjadi salah satu syarat kelulusan yaitu :
1.      Saya yakin, hanya sedikit mahasiswa yang murni mengerjakan sendiri isi/materi skripsinya. Tanpa ada plagiat, copypaste, ataupun membayar jasa seseorang untuk menyelesaikan skripsinya.
2.      Apakah hasil penelitian benar dan jujur adanya ? Bukan lagi rahasia umum bahwa manipulasi data atau hasil penelitian kerap dilakukan mahasiswa dalam menyusun skripsinya. Jangankan skripsi, ironisnya, hasil penghitungan suara Pemilu saja dapat dimanipulasi.
3.      Apakah di dunia kerja Anda dituntut untuk membuat skripsi ? Jawabannya adalah, Tidak. Hingga saat ini, saya tidak pernah melihat lowongan kerja untuk jabatan pembuat skripsi.
4.      Pernahkah Anda mempersentase, berapa persen keuntungan yang diperoleh dalam menyusun skripsi. Lebih besar mana dengan pengalaman praktik kerja lapangan atau magang kerja?
5.      Apakah skripsi tersebut bermanfaat? Untuk siapa? Masyarakat? Bangsa? Negara? Atau jangan-jangan untuk diri sendiripun kontribusinya hanya sedikit.
6.      Pernahkah Anda menghitung lembaran kertas terbuang sia-sia hanya untuk menyelesaikan satu bab skripsi Anda? Berapa lembar yang direvisi dan digandakan? Silahkan hitung. Kemudian cukup Anda bayangkan, berapa mahasiswa yang sedang menyusun skripsi di kampus Anda? Kotamadya? Propinsi? Indonesia ? Lalu kaitkan dengan isu global warming, berapa juta pohon yang ditebang untuk memenuhi permintaan kertas tersebut ?
Layakkah mereka bergelar Sarjana atau Professor ? namun tiada sebuah karya ilmiah yang mereka munculkan ?
Skripsi sebagai karya ilmiah untuk mendapatkan gelar tersebut hanyalah seremonial belaka, ibarat buku tanpa makna.
Diera modern serba internet bila kita melalang buana didunia maya, tak jarang banyak kita jumpai sebuah situs yang memberikan jasa atau bahkan menjual skripsi.
Atau juga perilaku mahasiswa yang cenderung mensadur, mengcopas sebuah karya ilmiah [SKRIPSI] untuk disusun sebagai karyanya sendiri.
Bila kita kumpulkan Skripsi-skripsi dari beberapa universitas di Indonesia saya yakin pasti ada yang mirip atau bahkan sama persis, ini semua dikarenakan calon sarjana menyusun Skripsi bukan karena hasil karya ilmiahnya sendiri namun sebuah hasil saduran yang mereka peroleh dari berbagai fasilitas media yang ada saat ini.
Dibidang hukum belum kita jumpai seorang profesor ahli hukum yang menelorkan ide hukum hasil pemikiran ilmiahnya, justru yang ada hanya para ahli plagiat atau melestarikan produk hukum peninggalan Belanda maupun hukum negara asing untuk diterapkan dinegeri ini.
Begitupula dibidang politik kecenderungan para profesor dan ahli politik yang ada dinegeri ini hanya mempopulerkan sebuah sistem perpolitikan karya orang asing dibandingkan membuat sistem politik baru hasil kajian ilmiahnya yang sesuai dengan adat dan budaya negeri ini.
Perekonomian yang carut marut adalah bukti para ahli ekonomi negeri ini hanya menguji coba strategi ekonomi dari ahli ekonomi asing untuk diterapkan dinegeri ini, dan lagi-lagi semuanya bukan karya sendiri. Mahasiswa selalu mencari semua dalam sebuah kumpulan jurnal yang banyak tersedia di internet saat ini.
SKRIPSI sebagai persyaratan kelulusan patut dipertanyakan, karena Skripsi yang banyak saat ini bukan lagi sebuah karya ilmiah yang asli.
Masih perlukah SKRIPSI ? kalau semuanya hanya akal-akalan semata ?
Silahkan jawab dengan kejujuran diri sendiri dan semoga ini bisa menjadi pertimbangan bagi para penentu kebijakan pendidikan di negeri kita ini.

Sedikit coretan dari mahasiswa semester II semoga jadi renungan….

Rabu, 14 Mei 2014

CORETAN KAMPUNG HALAMANKU

Kampung saya terletak di Kab. Kampar tepatnya di Desa Alampanjang Kec. Rumbio Jaya, mayoritas masyarakat kampungku bersukukan Ocu. Dimana suku Ocu adalah salah suku yang terdapat di Kab.     Kampar Provinsi Riau. Suku Ocu termasuk kelompok melayu tua, atau Proto Melayo.
               Di sini saya akan bercerita sedikit tentang kampung saya, di mana kampung saya itu alamnya masih rindang, jauh dari penababangan liar, udara yang masih segar, jauh dari polusi kendaraan. Walaupun polusi itu terkadang masih ada. Tetapi, tidaklah sama dengan kondisi di perkotaan. Pohon-pohon yang besar, tinggi dan juga hijau menandakan tempat ini masih menyediakan oksigen atau udara segar yang melimpah. Orang-orang di sini masih beketergantungan menggunakan alat tradisional dan sederhana, ketimbang alat yang menghasilkan polusi. Mengambil hasil alam dengan teratur, bahkan di sini kebiasaan bernama nangguok, kebiasaan yang dilakukan musiman dengan mencari ikan bersama-sama di Sungai Kampar, kebiasaan ini juga membantu mempererat tali silaturrahmi antar masyarakat. Beginilah keadaan kampung dan desaku.
            Rata-rata pekerjaan masyrakat di kampungku petani karet, walaupun sebagian kecil masyarakat kampung ada juga yang petani sawit dan palawija. Di sini, masyarakat di daerahku sangat menjunjung tinggi tali silaturrahmi sehingga  ada organisasi dan masyarakat di desa ini mengadakan kegiatan, seperti PKK yang dilaksanakan satu kali dalam satu minggu, wirid pengajian yang juga dilaksanakan satu kali dalam satu minggu, ada juga pemuda yang melaksanakan kegiatan olahraga, seperti Takraw, Bola Volly putra dan putri, dan sepak bola.
            Saya tidak pernah mengeluh tentang kampung saya, walaupun sebagian jalan di kampungku tidak bagus lagi. Yang membuat kampung ini lebih ramai ketika musim durian. Pernah kemarin, beberapa tahun yang lalu pernah mendarat Helikopter TNI Angkatan Udara hanya sekedar mampir untuk membeli durian. Hal ini terjadi tidak hanya satu kali saja. Tetapi, mereka sering kali datang hingga musim durian berlalu.
            Hal menarik lainnya selain pada saat musim durian, ada juga musim ikan mudik di Sungai Kampar, di mana para warga berlomba menangkap ikan tersebut. Baik itu bapak-bapak yang mayoritas bisa menangkap ikan, bahkan ibu-ibu juga ikut menangkap ikan tersebut. Ikan yang didapatpun bermacam-macam jenis, dari ikan yang besar sampai ikan terkecil.
            Begitulah sedikit cerita kampungku, indah dan menyegarkan bukan.